Day 1 : Garut
Kami sampai di akhir Ashar. Sebuah mesjid tua kami kunjungi seketika kami sampai, dan kami sholat serta berdiskusi singkat tentang apa yang akan kami lakukan selanjutnya
Sebuah tempat wudhu dan toilet yang cukup “tradisional” menyambutku. Jujur aku kaget, tapi bukannya aku belum mempersiapkan diri untuk ini. Saat itu aku langsung berpikir : “Aduhai, kawan-kawan harus siap untuk bertemu kamar mandi seperti ini jika kami melangsungkan acara Pengmas Camp! nanti”.
Air yang kami gunakan untuk wudhu adalah air hasil tampungan di bak besar, dimana di bak itu ada lubang-lubang yang disumbat, yang berfungsi sebagai keran. Mungkin itu biasa saja, meski di benakku, aku terbayang akan sisi negative dari air hasil tampungan. Bisa saja ada bangkai, atau kotoran, dsb yang bercampur dengan air tampungan itu. Tapi yang membuatku kaget adalah kondisi WC : Tidak ada air mengalir untuk membersihkan kelamin seusai buang air, dan lantai WC begitu gelap, hitam. Tidak ada cahaya pula yang menerangi WC
Manja, kah, penuturanku? Mungkin. Bukannya aku orang yang serba terlalu bersih atau mewah. Aku pun pernah melakukan perjalanan ke berbagai daerah, dan menjalani kehidupan di berbagai tempat. Tapi yang menjadi beban pikiranku adalah : Kami tidak membawa hanya kami ke PC! nanti. Kami kelak akan membawa orang-orang dengan berbagai latar belakang, ke PC!. Kami kelak akan bertanggung jawab akan kesehatan mereka, akan tindakan mereka ke lingkungan sekitar, dsb. Sebagai penjelas, jika ada seorang anak yang mungkin “manja” terkena penyakit atau sebagainya, kami-lah yang akan diminta pertanggung jawaban. Kemudian, jika ada anak “manja” melontarkan komentar tidak sedap akan fasilitas yang biasa digunakan warga, kami-lah yang akan merasa tidak enak karena khawatir komentar itu menyakiti hati warga
Well, semoga kami dapat mempertanggung jawabkannya
Kami memutuskan untuk naik angkot ke Pasanggrahan, apa pun itu. Desa Pasanggrahan terletak di peta Jawa Barat yang kubawa, dan desa itu adalah salah satu desa yang direkomendasikan oleh ITB untuk kegiatan pengabdian masyarakat. Jadi, desa itulah yang kami tuju
Keluar dari terminal, kami mencari angkot ke arah Cilawu, kecamatan yang “memuat” desa Pasanggrahan. Di sepanjang jalan sesuatu hal lain menyentak pikiranku : Jalanan penuh tahi kuda. Mirip ITB, ya? Tapi itu menyedihkan. Tahukah kalian, udara di sekeliling tahi kuda itu mematikan. Apabila terhirup, ada penyakit tertentu yang mungkin timbul dan berakibat kematian
Kami, dengan penuh ketidaktahuan dan asal-asalan, mencoba bertanya-tanya pada orang-orang di angkot. Ternyata Pasanggrahan ada 2! Well, aku khawatir ketidaktahuan kami akan dimanfaatkan. Salah satu pelajaran utama dalam menaiki angkot adalah : “Buang tampang bloon lo”. Ketidaktahuan dan kepolosan sering dimanfaatkan setan-setan berwujud manusia yang akan memeras-meras dan memerah-merah uangmu. Tapi syukurlah, kami tidak diapa-apakan! Kami turun di kantor polisi karena menurut kami, kami bisa bertanya-bertanya sambil numpang sholat maghrib
Ujian selanjutnya menunggu kami di kantor polisi. Ternyata, untuk sekedar menumpang sholat, kami perlu diperiksa dan diwawancara! Jujur aku khawatir. Kenapa? Karena di pinggangku tergantung pisau belati dan tongkat besi untuk bela diri. Bagaimana bila aku dicurigai dan ini berdampak pada teman-temanku? Tapi aku mencoba tenang, dan membiarkan pemimpin rombongan memutuskan. Eh, ternyata, ada mesjid tidak jauh dari kantor polisi untuk kami sholat, karena itu kami tidak perlu sholat di sana dan diwawancara. Akhirnya Pak polisi mempersilahkan kami pergi, dan aku lega
Barulah aku sadar kita akan diwawancara dan ditanya-tanya karena ulahku. Tasku terlalu besar, dan dikhawatirkan aku membawa bom – kata teman-teman
Kami sampai di Mesjid Agung, sebuah mesjid yang bagus dan tampaknya sangat menjanjikan untuk tempat menginap. Kami sholat maghrib, kemudian makan malam di tempat makan di depan masjid, sambil bertanya-tanya pada abang koki. Kami memutuskan untuk berbicara pada DKM masjid tersebut, lalu mendatangi rumah Pak Lurah / Pak Kades untuk meminta izin menginap mala mini
Hal yang tak terduga terjadi setelah kami sholat Isha
Asep Nugraha Beliau adalah seorang sosok yang dihormati di desanya. Beliau adalah seseorang yang sangat memperhatikan sekelilingnya, luas wawasannya, dermawan hatinya, dan berwibawa pembawaannya Beliau juga sosok yang mudah bergaul dan jenaka
Pak Asep mengajak kami, orang asing, untuk bermalam di rumahnya, tanpa banyak tanya dan curiga. Malahan, aku yang menaruh curiga
Tapi kemudian Pak Asep banyak berbincang dengan kami. Malam itu perspektif kami tentang banyak hal berubah. Kami melihat sela-sela yang tersembunyikan selama ini. Tapi mungkin apa yang kami dapat lebih tepat jika diceritakan di tulisan selanjutnya
Jadilah malam itu ditutup dengan tawa
5 Days Journey
Perjalanan dimulai dari Mesjid bernama Salman
Tim ekspedisi berdiskusi singkat sambil menunggu waktu keberangkatan dan beberapa anggota tim lainnya yang masih pergi memenuhi kebutuhan perjalanan
Pak Kadiv yang tidak dapat memulai perjalanan bersama memotret kami, dan mengucapkan salam perpisahaan diiringi doa keselamatan
———————————————————————————————————————–
Tempat itu ramai
Di setiap saat, suara teriakan terdengar, hiruk pikuk orang mencari nafkah dengan bertanya (sembari memaksa) : “Mau kemana Pak?”
Yang kami lakukan adalah terus berjalan. Pemimpin rombongan kami mendiamkan mereka, maka itulah yang kulakukan, sampai ada orang yang marah dan berteriak bahwa ia tidak meminta duit, barulah kami mulai menjawab : “Sudah tahu busnya, Pak”.
Kami melewati keramaian, ketidakteraturan, dan kekacauan itu, dengan duduk nyaman di sebuah bus jurusan Bandung – Garut. Kami memilih bus yang akan berangkat paling dulu. Ngomong-ngomong, mengingat nama bus, dan mencari tahu lokasi terakhir (terminal) yang akan dikunjungi bus bukan ide buruk
Satu jam saja, itu waktu yang dibutuhkan untuk segala ribet-ribet yang perlu dilakukan sebelum bus akhirnya benar-benar melaju menuju Garut (setelah bus berangkat dari terminal). 1 jam itu diwarnai oleh penjual asongan yang silih berganti turun naik bus, kondektur bus yang tak kenal lelah terus menerus mengajak orang ke Garut (Orang – orang yang lagi duduk-duduk santai di jalan diajak ke Garut. Eh, naik pula mereka!) sampai bus penuh sesak, dsb. Tapi akhirnya bus melaju dan aku bisa memejamkan mata sejenak
Thus, our journey began